Prop. Jawa Barat

| Selasa, 28 April 2015
Perkembangan Sejarah menunjukkan bahwa Propinsi Jawa Barat merupakan Propinsi yang pertama dibentuk di wilayah Indonesia (staatblad Nomor : 378). Propinsi Jawa Barat dibentuk berdasarkan UU No.11 Tahun 1950, tentang Pembentukan Propinsi Jawa Barat. Selama lebih kurang 50 tahun sejak pembentukannya, wilayah Kabupaten/Kota di Jawa Barat baru bertambah 5 wilayah, yakni Kabupaten Subang (1968), Kota Tangerang (1993), Kota Bekasi (1996), Kota Cilegon dan Kota Depok (1999). Padahal dalam kurun waktu tersebut telah banyak perubahan baik dalam bidang pemerintahan, ekonomi, maupun kemasyarakatan.
Jawa Barat merupakan salah satu Provinsi di Indonesia yang memiliki alam dan pemandangan yang indah serta memiliki berbagai potensi yang dapat diberdayakan, antara lain menyangkut Sumber Daya Air, Sumber Daya Alam dan Pemanfaatan Lahan, Sumber Daya Hutan, Sumber Daya Pesisir dan Laut serta Sumber Daya Perekonomian.
Dalam kurun waktu 1994-1999, secara kuantitatif jumlah Wilayah Pembantu Gubernur tetap 5 wilayah dengan tediri dari : 20 kabupaten dan 5 kotamadya, dan tahun 1999 jumlah kotamadya bertambah menjadi 8 kotamadya. Kota administratif berkurang dari enam daerah menjadi empat, karena Kotip Depok pada tahun 1999 berubah status menjadi kota otonom.
Dengan lahirnya UU No.23 Tahun 2000 tentang Provinsi Banten, maka Wilayah Administrasi Pembantu Gubernur Wilayah I Banten resmi ditetapkan menjadi Provinsi Banten dengan daerahnya meliputi : Kabupaten Serang, Kabupaten Pandeglang, Kabupaten Lebak dan Kabupaten/Kota Tangerang serta Kota Cilegon.
Adanya perubahan itu, maka saat ini Provinsi Jawa Barat terdiri dari : 17 Kabupaten dan 9 Kotamadya, dengan membawahkan 592 Kecamatan, 5.201 Desa dan 609 Kelurahan.



Arti Lambang Propinsi Jawa Barat

Kujang : Senjata khas tradisional Jawa Barat
Lubang Lima pada Senjata Kujang : Menggambarkan Pancasila sebagai Dasar Negara Republik Indonesia
Padi, Kapas, Sungai, Terusan, Sawah, Perkebunan, Bendungan : Melambangkan Daerah Jawa Barat sebagai daerah yang subur, makmur dan sejahtera



Geografis
Provinsi Jawa Barat berada di bagian barat Pulau Jawa. Wilayahnya berbatasan dengan  Laut Jawa di utara, Jawa Tengah di timur, Samudra hindia di selatan, serta Banten dan DKI Jakarta di barat. Kawasan pantai utara merupakan dataran rendah. Di bagian tengah merupakan pegunungan, yakni bagian dari rangkaian pegunungan yang membujur dari barat hingga timur Pulau Jawa. Titik tertingginya adalah Gunung Ciremay, yang berada di sebelah barat daya Kota Cirebon. Sungai-sungai yang cukuppenting adalah Sungai Citarum dan Sungai Cimanuk, yang bermuara di Laut Jawa.  

Kependudukan
Jawa Barat merupakan Provinsi dengan jumlah penduduk terbanyak di Indonesia. Daerah dengan kepadatan penduduk terbesar berada di dekat Jakarta. Bandung , ibukota provinsi Jawa Barat merupakan kota dengan jumlah penduduk terbesar ketiga di Indonesia setelah Jakarta dan Surabaya. Sebagian besar penduduk Jawa Barat adalah Suku Sunda, yang bertutur menggunakan Bahasa Sunda. Di beberapa kota di pesisir utara, di tuturkan bahasa Jawa dialek Cirebon, yang mirip dengan Bahasa Jawa dialek Tegal. Di daerah perbatasan dengan DKI Jakarta seperti Bekasi, Depok, dan Kabupaten Bogor bagian utara dituturkan Bahasa Indonesia dialek Betawi. Akibat urbanisasi, penduduk di daerah sekitar Jakarta terdiri dari berbagai etnis di Indonesia, termasuk Suku Jawa, Suku Batak, dan Suku Minang.

Potensi Alam Jawa Barat

Pertanian, Peternakan dan Perkebunan
Sumber daya alam Jawa Barat cukup melimpah. Provinsi ini pada tahun 2006 memiliki lahan sawah ber-irigasi teknis seluas 380.996 ha, sementara sawah beririgasi setengah teknis 116,443 ha, dan sawah beririgasi non teknis seluas428.461 ha. Total saluran irigasi di Jawa Barat Sepanjang 9.488.623 km, sawah-sawah inilah yang pada 2006 menghasilkan 9.418.882 ton padi, terdiri atas 9,103.800 ton padi sawah dan 315.082 ton padi ladang.

Diantara tanaman palawija , pada tahun 2006 ketela pohon menempati urutan pertama. Produksi palwija, mencapai 2.044.674 ton dengan produktifitas 179,28 kuintal per ha, kendati demikian , luas tanam terluas adalah untuk komoditas jagung yang mencapai 148.505 ha Jawa Barat juga menghasilkan hortikultura yang terdiri dari 2.938.624 ton sayur mayor, 3.193.744 ton buah-buahan, dan 159.871 ton tanaman obat/biofarmaka. Hutan di Jawa Barat juga lyas, mencapai 764.387,59 ha atau 20,62% dari total luas provinsi, terdiri dari hutan produksi seluas 362.980,40 ha (9,79%), hutan lindung seluas 228.727,11 ha (6,17%), dan hutan konservasi seluas 172.680 ha (4,63%). Pemerintah juga menaruh perhatian serius pada hutan mangrove yang mencapai 40.129,89 ha, tersebar di 10 kabupaten yang mempunyai pantai. Selain itu semua, ada lagi satu hutan lindung seluas 32.313,59 ha yang dikelola oleh Perum Perhutani Unit III Jawa Barat dan Banten.

Dari hutan produksi yang dimilikinya, pada tahun 2006 Jawa Baratmemetik hasil 200.675 m³ kayu, meskipun kebutuhan kayu di provinsi ini setiap tahun sekitar 4 juta m³. Sampai 2006, luas hutan rakyat 214.892 ha dengan produksi kayu sekitar 893.851,75 m³. jawa Barat juga menghasilkan hasil hutan non kayu cukup potensial yang dikembangkan sebagai aneka usaha kehutanan, antara lain sutra alat jamur, pinus, getah dammar, kayu putih, rotan, bamboo, dan sarang burung wallet.

Di sektor perikanan, komoditas unggulan adalah ikan mas, nila, banding, lele, udang windu, kernag hijau, gurame, patin, rumput laut, dan udang vaname. Di tahun 2006, provinsi ini memanen 560,000 ton ikan hasil budidaya perikanan dan payau, atau 63,63% dari total produksi perikanan Jawa Barat. Di bidang peternakan, sapi perah, domba, ayam buras, dan itik adalah komoditas unggulan di Jawa Barat. Data 2006 menyebutkan kini tersedia 96.796 sapi perah (25% populasi nasional), 4.249.670 domba, 
28.652.493 ayam buras, 5.596.882 itik (16% populasi nasional). Kini hanya tersedia 245.994 sapi potong di Jawa Barat (3% populasi nasioanl), pada hal kebutuhan tiap tahunnya sekitar 300 ribu sapi potong. Untuk memenuhi kebutuhan Jawa Barat harus mengimpor 150 ribu ternak sapi dari Australia tiap tahunnya, di samping berharap pasokan ternak hidup dari provinsi lain terutama Jawa Timur, Jawa Tengah, Daerah Istimewa Yogyakarta, Lamoung, Bali, Lombok, dan lain-lain. Dalam memaksimalisasi sektor peternakannya, Jawa Barat membagi kawasan pengembangan andalan peternakan ke dalam tiga wilayah, yaitu :

1. Jawa Barat Bagian Utara untuk peternakan itik
2. Jawa Barat Bagian Tengah untuk sapi perah, ayam ras, dan domba; serta
3. Jawa Barat Bagian Selatan untuk domba dan sapi potong

Provinsi ini memiliki banyak objek unggulan di bidang perkebunan, antara lain; the, cengkeh, kelapa, karet, kakao,tembakau,dan kopi merupakan komoditas unuggulan nsional asal Jawa Barat. Di sisi lain lahan, produktifitas terbaiknya, yakni luas areal tanam sama dengan luas tanaman yang menghasilkan, adalah komoditas temabakau dan tebu.

Dari sisi produksi, produktifitas terbanyak adalah kelapa sawit (6,5 ton per ha) dan tebu (5,5 ton per ha). Jawa Barat juga menghasilkan produksi tambang unggulan. Pada tahun 2006 , berahasil diekplorasi 5.284 ton zeolit, 47.978 ton bentonit, serta pasir besi, semen pozolan, feldspar dan barn permata/gemstone. Potensi pertambangan batu mulia umunya banyak terdapat di daerah Kabupaten Garut, Tasikmalaya, Kuningan, dan Sukabumi.

Pertambangan
Daerah Jawa Barat mempunyai berbagai potensi bahan tambang dan galian, seperti minyak dan gas bumi di daerah Cirebon dan Indarmayu, tambang emas di Gunung Pongkor, Gunung Limbung, dan Purwakarta. Selain itu, Jawa Barat juga memliki bahan galian marmer di daerah Tasikmalaya, Bandung dan Sukabumi. Batu kwarsa banyak terdapat di Bogor, Sukabumi, Bekasi, dan Cirebon, fosfat banyak terdapat di daerah Ciamis dan Sukabumi, serta bentonit, zenit dan gips tersebar dibeberapa daerah. Produksi bahan galian golongan C di Jawa Barat tahun 1997 adalah sebagai berikut: batu kapur12.650.408 ton, pasir 1.487.630 ton, pasir kuarsa, sirtu 2.158.126 ton, 144.710 ton, tanah liat 2.074.489 ton, dan tanah urug 1.623.186 ton; andesit 4.620.641 ton, bentonit 41.591 ton; fosfat 9.454 ton ton; kaolin 2.623 ton; trass768.280 ton; dan zeolit 2.553 ton. Hasil produksi bahan galian tahun 1998 menunjukan data berikut: andesit 1.324.321 ton; batu kapur 3.481.841 ton; bentonit 43.576 ton; diatom 19.361 ton; feldspar 5.457 ton; gypsum 1.648 ton; marmer 103 ton; sirtu 274.474 ton; pasir 48.626 ton; pasir kuarsa 126.286 ton; tanah liat 85.182 ton; trass 42.936 ton; zeolit 1.452 ton; yarosit 324 ton.

Industri
Industri Kontribusi industri cukup menonjol bagi perekonomian nasioanl, termasuk bagi daerah Jawa Barat. Hampir 60% industri pengolahan berlokasi di Jawa Barat, sehingga perekonomian nasioanal sangat dipengaruhi  oleh kinerja industri di daerah ini. Dalam struktur perekonomian di Jawa Barat, sektor industri memilki kontribusi terbesar dan menduduki peringkat pertama, disusul oleh sektor pertanian. Sektor ini khusunya industri pengolahan, mampu meyerap jumlah tenaga kerja ter besar kedua sesudah pertanian. Berbagai industri di Jawa Barat sudah berkembang dengan pesat, antara lain industri pesawat terbang, industri senjata ringan, dan telekomunikasi di Bandung dan industri dinamit di Tasikmalaya. Industri lain yang cukup menonjol antara lain industri besi baja di Cilegon, industri elektronik di Bandung, industri kertas di Padalarang, dan Bekasi, industri semen di Cibinong, Citeureup dan Cirebon, industri pupuk di Cikampek, aneka industri dengan komoditas tekstil, benang tenun, dan pakaian jadi di daerah cekungan Bandung, serta industri minuman, makanan, rokok, kulit, keramik, di sekitar Bandung, Tangerang, Bekasi, dan Cirebon. Industri-industri kecil dan rumah tangga yang banyak terdapat di Bekasi, Bogor, Tangerang, Depok, Kota Bandung,Cianjur dan Tasikmalaya juga berkembang pesat dalam beberapa tahun terakhir. Potensi lain yang dapat dimanfaatkan untuk mengembangkan berbagai aneka undustri dan industri utama di Jawa Barat adalah peguruan tinggi dan lembaga penelitian yang ada di daerah itu, seperti Institut teknologi Bandung (ITB); Institut Pertanian Bogor (IPB); LAPAN, dan Badan Reaktor Atom Negara (BATAN). Selain itu, besarnya jumlah penduduk dan SDM yang berkualitas merupakan potensi pendukung untuk mengembangkan ilmu pengetahuandan tenologi tinggi (Iptek) di Jawa Barat. Jumlah industri utama di Jawa Barat (1997) adalah sebagai berikut: industri makanan, minuman, dan tembakau berjumlah 100 unit dengan tenaga kerja 119.745 orang; industri tekstil pakaian jadi dan kulit sebanyak 1.744 unit dengan tenaga kerja 783.745 orang; industri kayu dan barang-barang dari kayu termasuk alat-alat kayu 483 unit dengan tanaga kerja 7.174 orang; jumlah undustri kertas dan barang-barang dari kertas  cetakan dan penerbitan 207 unit dengan tenaga kerja 46,428 orang; industri barang galian bukan logam  kecuali minyak bumi 815 unit dengan tenaga kerja 82.308 orang; industri logam dasar 63 unit dengan tenaga kerja 19.755 orang; industri mesin dan peralatan lain 903 unit dengan tenaga kerja 209.776 orang; dan industri pengolahan lain berjumalah 143 unit dengan tenaga kerja 37.988 orang. Hasil produksi industri kecil berupa makanan dan minuman, sandang dan kulit, kimia dan bahan-bahan bangunan, kerajinan umum dan logam mengalami perkembangan pesat. Total jumlah industri di Jawa Barat (1997) berjumlah sekitar 6.085 unit, baik industri besar, sedang maupun kecil, dan menyerap tenaga kerja lebih dari 1,5 juta orang. Investasi di daerah Jawa Barat tahun 1998 adalah: persetujuan PMA US$ 81,035,000 dan persetujuan PMDN Rp jumlah tersebut untuk waktu sekarang sudah terlampau kecil. Nilai tamabh hasil industri di Jawa Barat tahun1997 adalah sebagai berikut: dari industri makanan, minuman dan tembakau Rp 2.425.086.000.000; industri tekstil dan pakaian jadi dan kulit Rp 10.825.000.000; industri kayu dan barang-barang dari kayu Rp 895.538.000.000; industri kertas dan barang-barang dai kertas Rp 1.258.060.000.000; industri kimia dan barang- barang dari kimia, minyak , batu bara , karet dan bahan plastic rp 6.329.237.000.000 ; industri barang logam dan mesin termasuk peralatannya Rp 9.458.654.000.000; dan industri pengolahan lainnya Rp 614.059.000.000. jadi total nilai tambah dari hasil industri daerah Jawa Barat tahun 1997 adalah sekitar Rp 35.862.641.000.000.

Flora
Di Jawa Barat terdapat 3.882 spesies tumbuhan berbunga dan tumbuhan paku asli Jawa Barat dan 258 jenis yang dimasukan dari luar Jawa Barat. Khusus untuk Anggrek (Orchidaceae) di Pulau Jawa, di Jawa Barat terdapat 607 jenis alami, 302 jenis (50%) hanya ada di Jawa Barat. Tumbuhan termasuk pohon, di Jawa Barat terdapat 1.106 jenis dengan 51 jenis disebut dengan pohon-pohon yang penting, diantaranya jati, rasamala, kepuh, jamuju, bayur, puspa, kosambi, beleketebe, pasang, pedada, baku, dll. Tipetipe vegetasi yang ada di Jawa Barat menurut Van Steenis adalah:
  1. 1.    Vegetasi Litoral
  2. 2.    Hutan Baku
  3. 3.    Formasi Pantai
  4. 4.    Hutan Rawa Dataran Rendah
  5. 5.    Hutan Hujan Rendah dan Perbukitan
  6. 6.    Hutan Hujan Pegunungan
  7. 7.    Danau dan Rawa Pegunungan


Fauna
Secara umum, baik di Jawa Barat maupun di dunia, dunia fauna dapat dikelompokan menjadi kelompok-kelompok sebagai berikut:

Kelompok Serangga
Kelompok ini mempunyai berbagai macam manfaat. Salah satu perannya yang sangat penting adalah proses penyerbukan yang dilakukan oleh kupu-kupu. Namun saat ini keberagamannya sudah sangat berkurang, dikarenakan berkurangnya habitat dan ekspolitasi oleh manusia.

Kelompok Pisces
Ikan –ikan yang dijumpai di tiga daerah alira sungai Citarum dan tiga waduk besar di wilayah Jawa Barat yaitu: jatiluhur, Carita dan Saguling dijumpai jenis-jenis ikan sebagai berikut: ikan yang menjadi cirri khas sungai Citarum : tagih/baung, hampal, keting, dan udang batu. Ikan khas sungai Citarum yang sudah tidak ditemukan lagi setelah pembangunan waduk : tawes, lelawak, sengal, arengan, walangi   Ikan yang masih bisa ditemukan di sungai dan waduk : deleg, sidat/moa, betook, pepetek, kebo gerang, julung-julung, keting, beureum panon, beunteur, sepat, paray, betutu/bodo, jeler, oleng, gabus, belut  Ikan budidaya yang introduksi ke perairan waduk : patin, ikan mas, nila, gurame. Ikan hias yang di introduksi ke perairan waduk : arwana, golsom, oskar. Ikan yang secara tradisi dikonsumsi oleh masyarakat sekitar : tagih, baung. Ikan atau udang yang dijumpai dalam periode tertentu.

Kelompok Reptil
Kelompok ini semakin hari semakin langka, hal ini disebabkab habitat yang tersedia semakin berkurang dan belum satupun dari jenis kelompok ini yang dibudidayakan. Beberapa jenis Reptil yang masih bisa dijumpai adalah : biawak ( Tasikmalaya) dan kura-kura (Bogor) 

Kelompok Aves
Kelangkaan jenis burung lebih dikarenakan nilai ekonomis yang sangat tinggi sebagai hewan peliharaan. Di danau-danau kecil di Sentul (Bogor) beberapa jenis burung air masih bisa dijumpai, seperti: belekok, bangau, dan raja udang.

Kelompok Mamalia
Kelangkaan jenis mamalia disebabkan dua hal, aktifitas perburuan, dan habitatnya terganggu. Banten di Hutsn Sancang (Garut) dan Pangandaran sudah semakin berkurang. Rusa ditangkaran di Ranca Upas.


Tokoh Pergerakan dan Pahlawan Nasional

RADEN DEWI SARTIKA (1884 -1947)
Tempat/Tgl.Lahir               : Cicalengka, 4 Desember 1884
Tempat/Tgl. Wafat             :  Cinean, 11 September 1947
SK Presiden                       :  No. 252 Tahun 1966, Tgl. 1 Desember 1966

Raden Dewi Sartika merupakan putrid dari raden Somanagara yang juga giat melawan pemerintah Belanda. Meskipun melanggar ada saat itu, orang tua beliau bersikukuh menyekolahkan Dewi Sartika ke sekolah Belanda. Pendidikan yang dimiliki dan diskriminasi gender pada saat itu beliau tertantang mendirirkan sekolah untuk anak-anak perempuan. Setelah menikah dengan Raden Kanduruan Agah Suriawinata, guru di sekolah Karang Pamulang, pada tanggal 16 Januari 1904 beliau mendirikan Sekolah Istri di Bandung yang merupakan sekolah perempuan pertama se-Hindia Belanda. Antusiasme kaum perempuan sangat besar sehingga sekolah dipindahkan dan pada tahun 1910 berganti nama menjadi Sekolah Keutamaan Istri. Setelah memilki gedung sendiri, namanya berganti lagi menjadi Sekolah Raden dewi pada tahun 1929. sekolah ini memberikan pengetahuan dan pembianaan rumah tangga. Sekolah ini terus berkembang dan menyebar ke daerah Garut, Tasikmalaya, dan Purwakarta. Pendirian sekolah tidak lepas dari campur tangan suaminya. Jasa beliau dalam mencerdaskan rakyat, khususnya kaum wanita, mendapatkan penghargaan bintang perak dari pemerintah Belanda.


Ir.H. DJUANDA KARTAWIJAYA (1911 – 1963)
Tempat/Tgl.Lahir               : Tasikmalaya,14 Januari 1911
Tempat/Tgl. Wafat             :  Jakarta, 7 November 1963
SK Presiden                       :  No. 244/TK/ Tahun 1963, Tgl. 29 November 1963

Ir.H. Djuanda Kartawijaya lulus dari Technische Hooge School (sekarang ITB) tahun 1933 dan dikenal sebagai sosok yang cerdas. Setelah lulus, beliau memilih menjadi guru SMA Muhamadiyah dari pada menjadi asisten dosen di almamaternya. Empat tahun kemudian, beliau menjadi tenaga ahli pada jawatan pengairan Jawa Barat dan anggota Dewan Daerah Jakarta. Beliau pernah menjabat jawatan Kereta Api Jawa-Madura,mentri perhubungan, dan 17 kali menduduki jabatan di cabinet. Ketika ditawari bergabung dalam Negara Pasundan cpitaan Belanda, beliau langsun menolak. Saat mengundurkan diri, tetapi bergeming dan justru berhasil mengatasi pemberontakan tersebut. Kepedulian beliau terhadap permasalahan Pembangunan dan ekonomi Indonesia sangat besar. Salah satu sumbangannya yang terbesar adalah Deklarasi Djuanda pda tahun 1957 yang mengatakan bahwa wilayah perairan Indonesia menjadi satu kesatuan wilayah NKRI. Beliau dimakamkan di TMP Kalibata, Jakarta.


GATOT MANGKUPRAJA (1898 – 1968)
Tempat/Tgl.Lahir               : Sumedang, 15 Desember 1898
Tempat/Tgl. Wafat             :  Bandung, 4 Oktober 1968
SK Presiden                       :  No. 089/TK/ Tahun 2004, Tgl. 5 November 2004

Gatot Mangkupraja sempat bersekolah STOPIA dan HBS, tetapi tidak selesai. Beliau aktif berorganisasi di Algemeene Study Club dan menjadi menjadi sekretaris pusat Partai Nasional Indonesia (PNI) pimpinan Soekarno. Belanda menganggap bahwa PNI adalah pemberontak dan ingin menggilingkan pemeritahan. Oleh karena itu Gatot, Soekarno, dan Maskun ditangkap di Solo pada tanggal 29 Desember 1929. mereka dibawa ke penjara Banceuy, Bandung dan divonis hukuman dua tahun di penjara Sukamiskin. Setelah bebas dan PNI dibubarkan, beliau memilih Partido sebagai partainya. Pada tanggal 18 Agustus 1930, beliau bersama Maskun, Soekarno, dan Soepriadinata dimejahiajaukan Belanda dengan tuduhan pemberontakan menggunakan artikel 169 bis dan 153 bis Wetboek va Strafrecht (KUHP-nya zaman colonial). Dalam pembelaannya di pengadilan Soekarno menyampaikan pidato yang sangat memukau dan kenudian dikenal sebagai Indonesia menggugat. Pada tahun 1933 , beliau bergabung dengan Bung Hatta di PNI-baru, setelah sebelumnya menjadi anggota Partindo. Ketika membuka usaha toko obat, beliau berteman dengan tokoh-tokoh Jepang. Kedekatan ini dimanfaatkan dengan mengusulkan pembentukan pasukan Indonesia, pada tanggal 7 September 1947. Pada tanggal 7Oktober 1943 , akhirnya Jepang membentuk Pembela Tanah Air (PETA) dengan tujuan utama membantu Jepang mempertahankan diri dari serangan sekutu. Gatot ditangkap sekutu  pada tahun 1946 da ditahan di pulau Onrust, Jakarta. Setelah bebas, beliau menjadi anggota KNPI, DPR, dan MPRS. Beliau meninggal karena sakit di usia 70 tahun.


Prof.M.R.R.H. IWA KUSUMA SUMANTRI. SH (1899 -1971)
Tempat/Tgl.Lahir               : Ciamis, 31 Mei 1899
Tempat/Tgl. Wafat             :  Jakarta, 27 November 1971
SK Presiden                       :  No. 073/TK/Tahun 2002, Tgl. 6 November 2002

Pada saat mengikuti pendidikan OSVIA di Bandung, beliau pundah k eke Recht School (Sekolah Hukum) di Jakarta hinggatahun 1921. beliau memperdalam ilmu hokum di Universitas Leiden, Belanda, setahun kemudian. Di Belanda, beliau bergabung dengan Indonesisch Vereeniging. Atas usulannya, organisasi tersebut berganti menjadi Perhimpunan Indonesia (PI) dan menjabat ketua. PI berjuang mencapai dengan cara bersatu tanpa membedakan suku dan golongan. Selain itu, PI berpaham nonkooperasi, artinya tidak mau bekerjasa dengan colonial Belanda. Sekembali ke tanah air, beliau pindah ke Medan dan menerbitkan surat kabar Matahari Indonesia. Pada bulan Juli 1929, Belanda mengkapnya di Medan, lalu dipndahkan ke Jakarta, sebelum diasingkan ke Banda Neira selam sebelas tahun. Pada akhir Februari 1941, beliau di pindahkan ke makassar . pada masa kabinet presidensial, Iwa menjabat sebagai menteri social. Ketika system pemerintah menjadi cabinet parlementer, Iwa bergabung dengan Persatuan Perjuangan Pimpinan Tan Malaka yang menentang politik pemerintah karena bersedia berunding dengan Belanda. Ketika RI sudah di akui kedaulatannya, beliau menjabat beberapa poisisi menteri. Pada tahun 1957, beliau diangkat sebagai rector Universita Padjajaran dan emoat tahun kemudian menjadi menteri perguruan tinggi dan ilmu pengetahuan.


K.H. NOER ALI (1914 -1992)
Tempat/Tgl.Lahir               : Bekasi , 1914
Tempat/Tgl. Wafat             :  Bekasi, 29 Januari 1992
SK Presiden                       :  No. 085/TK/Tahun 2006, Tgl. 3 November 2006

Setelah belajar ilmu agama pada guru agama di sekita Bekasi, beliau pergi ke Mekah untuk beribadah dan memperdalam ilmu agama selama empat tahun. Selain belajar, beliau aktif  berorganisasi di persatuan Tabalan Indonesia dan Perhimpunan Pelajar Indonesia-Malaya. Setelah kembali ke Indinesia, beliau mengajar  di Mesjid Ujungmalang. Pada bulan September 1945, beliau ikut berjuang mempertahankan kemerdekaan dari Inggris dan Belanda dengan membentuk lascar rakyat. Laskar ini dibubarkan karena Noer Ali menolak menempatkan di bawah naungan partai politik Persatuan Perjuangan pimpinan  Tan Malaka. Sesudah perang kemerdekaan berakhir,beliau aktif di partai Masyumi dan memegang berbagi jabatan di organisasi keagamaan, termasuk Majelis Ulama Indonesia. (MUI).


K.H. ZAENAL MUSTOFA (1899 – 1944)
Tempat/Tgl.Lahir               : Tasikmalaya, 1899
Tempat/Tgl. Wafat             :  Jakarta , 28 Maret 1944
SK Presiden                       :  No. 064/TK/ Tahun 1972, Tgl 6 November 1972

Nama asli K.h. Zaenal Mustofa adalah Umri alias Hudaemi. Namanya berganti menjadi K.H. Mustofo setelah menunaikan ibadah haji. Beliau menghabiskan masa kecilnya dengan mendalami pelajaran agama di pesantren di Jawa Barat. Mulai pesantren Sukamanah yang didirikannya, beliau berusaha memajukan umat Islam di Indonedisia. Namun ,hal ini di anggap pemerintah sebagai pemberontakan sehingga pada tanggal 17 November 1941 beliauditangkap dan dipenjara di penjara Suka miskin, Bandung. Pada masa pendudukan Jepang, beliau menentang romusha dan kegiatan Seikeirei, yaitu memberi hormat dan mendudukan kepala kea rah matahari terbit. Beliau kemudian membentuk Pasukan Tempur Sukamanah untuk melancarkan perlawanan tehadap Jepang pada tanggal 25 Februari 1944. Pertempuran dimengkan Mustofo tetapi Jepang kembali meyerang dengan kekuatan yang lebih besar. Zaenal Mustofa tertangkap dan dijatuhi hikuman mati. Makam beliau dipindahkan ke Taman Makam Pahlawan Tasikmalaya pada tanggal 10 November 1974.


Prof.Dr. KUSUMAH ATMAJA. SH (1898 – 1952)
Tempat/Tgl.Lahir               : Purwakarta, 8 September 1898
Tempat/Tgl. Wafat             :  Jakarta, 11 Agustus 1952
SK Presiden                       :  No. 124 Tahun 1965, Tgl. 14 Mei 1965

Prof.Dr. Kusuma Atmaja memiliki nama lengkap Sulaiman Effendi Kusumah Atmaja. Beliau adalah lulusan sekolah hokum di Jakarta dan bekerja di Pengadilan Negri Bogor dan Medan. Pada tahun 1922, beliau memperoleh gelar doktor dari Universitas Leiden, Belanda, jurusan hokum. Kusuma Atmaja memang tidak aktif di partai  politik  karena lebih banyak bergerak di bidang pengadilan yang menuntut kenetralan. Beliau berjuang dengan cara membantu tokoh-tokoh pergerakan nasional dalam mencapai kemerdekaan. Setelah Indonesia Merdekam, Kusuma Atmaja menjadi ketua Mahkamah Agung RI serta guru besar Sekolah Tinggi Kepolisian dan Universiatas Gajah Mada. Beliau sempat ditawari menjadi ketua Mahkamah Agung dan Wali Negara Pasundan oleh Belanda tetapi dengan tegas menolak.


Laksaman R. EDY MARTADINATA (1921 – 1966)
Tempat/Tgl.Lahir               : Bandung, 29 Maret 1921
Tempat/Tgl. Wafat             :  Riung Gunung, 6 Oktober 1966
SK Presiden                       :  No. 220 Tahun 1966, Tgl. 7 Oktober 1966

R. Edy Martadinata adalah seorang lulusan sekolah pelayaran (Zeevaart School) di Surabaya. Pada masa pendudukan Jepang, beliau bekerja sebagai aspiran dan penerjemah di sekolah pelayaran tinggi Semarang. Setelah kemerdekaan Indonesia, beliau membentuk Angkatan Laut Republik Indonesia (ALRI) dan menjabat kepal Staf Operasi dan Markas Besar ALRI di Yogyakarta. Sebagai Staf Komando Daerah Maritim Surabaya, beliau dapat memdamkan pemberontakan Andi Aziz di Sulawesi Selatan. Tahun 1953, beliau belajar di Amerika Serikat. Beliau juga pernah dikirim ke luar negri untuk mengawasi pembelian kapal-kapal ALRI. Ketika kepala Staf ALRI Laksamana Subiyakto dituntut untuk diganti, R.E. Martadinata terpilih untuk menggantikan. Pada bulan februari 1966, beliau berhenti sebagai Kepala Staf ALRI dan menjadi duta Besar RI untuk Pakistan. Beliau gugur dalam kecelakaan helkopter yang ditumpanginya.


MASKUN SUMADIREJA (1907 – 1986)
Tempat/Tgl.Lahir               : Bandung, 25 Mei 1907
Tempat/Tgl. Wafat             : Bandung, 4 Januari 1986
SK Presiden                       :  No. 089/TK/Tahun 2004, Tgl. November 2004

Maskun berjuang melawan Belanda sejak berusia 20 tahun. Maskun bergabung dengan Partai Nasional Indonesia (PNI) yang dipimpin Soekarno. Di partai ini, beliau menjabat sebagai komisaris merangkap sekertaris dua PNI cabang Bandung. Pada tanggal 29 Desember 1929, beliau dan tokoh-tokoh PNI lainnya ditangkap karena dianggap memberotak. Mereka dibawa ke Bandung dan dipenjarakan di Penjara Banceuy. Setelah bebas, beliau bergabung dengan PNI-baru pimpinan Bung Hatta. Ketika Soekarno memproklamasikan kemerdekaan Maskun berada di Australia dengan status tahanan politik (tapol). Beliau dan tapol Indonesia. Setelah kembali ke Indonesia, beliau di tempatkan di Departemen Penerangan. Setelah itu, beliau dipindahkan ke Departemen Dalam Negeri dengan jabatan terakhir kepala direktorat politik.


R. OTTO ISKANDAR DINATA (1897 -1945)
Tempat/Tgl.Lahir               : Bandung, 31 Maret 1897
Tempat/Tgl. Wafat             : Banten, 20 Desember 1945
SK Presiden                       :  No. 088/TK/Tahun 1973, Tgl. 6 November 1973

Otto Iskandar Dinata bersekolah di Sekolah Guru Atas di Purworejo. Setelah itu, beliau diangkat menjadi guru di Banjarnegara, lalu Pekalongan. Di kota ini, beliau menjadi wakil Budi Utomo di Dewan Kota. Melalui Dewan ini, Otto sering mengkritik Belanda yang bertindak kasardan sewenang-wenang kepada para petani Indonesia. Keberanian ini menyebabkab beliau bertengkar dengan Residen Pekalongan sehingga terpaksa pindah ke Jakarta dan mengajar disana. Selain itu, beliau memimpin Paguyuban Pasundan hingga berhasil mendirikan sekolah, bank, dan fasilitas umum lainnya yang berguna untuk masyarakat. Pada tahun 1939, Paguyuban Pasundan menjadi GAPI ( Gabungan Politik Indonesia), GAPI dilarang oleh Jepang. Beliau kemudian mulai berkecimpung di bidang kewartawanan dan duduk dalam PPKI untuk menyusun UUD 1945. Dalam Kabinet Presidensial, beliau diangkat menjadi Mentri Negara. Beliau meninggal karena diculik dan dibunuh oleh orang-orang yang tidak bertanggungjawab

Sumber :
http://www.jabar.go.id/jabar/public/98694/menu.html
http://mukhlisdinillah.blogspot.com/2013/05/profil-provinsi-jawa-barat.html

0 komentar:

Posting Komentar

Next Prev
▲Top▲