Perkembangan Sejarah
menunjukkan bahwa Propinsi Jawa Barat merupakan Propinsi yang pertama dibentuk
di wilayah Indonesia (staatblad Nomor : 378). Propinsi Jawa Barat dibentuk
berdasarkan UU No.11 Tahun 1950, tentang Pembentukan Propinsi Jawa
Barat. Selama lebih kurang 50 tahun sejak pembentukannya, wilayah
Kabupaten/Kota di Jawa Barat baru bertambah 5 wilayah, yakni Kabupaten Subang
(1968), Kota Tangerang (1993), Kota Bekasi (1996), Kota Cilegon dan Kota Depok
(1999). Padahal dalam kurun waktu tersebut telah banyak perubahan baik dalam
bidang pemerintahan, ekonomi, maupun kemasyarakatan.
Jawa Barat merupakan
salah satu Provinsi di Indonesia yang memiliki alam dan pemandangan yang indah
serta memiliki berbagai potensi yang dapat diberdayakan, antara lain menyangkut
Sumber Daya Air, Sumber Daya Alam dan Pemanfaatan Lahan, Sumber Daya Hutan,
Sumber Daya Pesisir dan Laut serta Sumber Daya Perekonomian.
Dalam kurun waktu
1994-1999, secara kuantitatif jumlah Wilayah Pembantu Gubernur tetap 5 wilayah
dengan tediri dari : 20 kabupaten dan 5 kotamadya, dan tahun 1999 jumlah
kotamadya bertambah menjadi 8 kotamadya. Kota administratif berkurang dari enam
daerah menjadi empat, karena Kotip Depok pada tahun 1999 berubah status menjadi
kota otonom.
Dengan lahirnya UU No.23 Tahun
2000 tentang Provinsi Banten, maka Wilayah Administrasi Pembantu Gubernur
Wilayah I Banten resmi ditetapkan menjadi Provinsi Banten dengan daerahnya
meliputi : Kabupaten Serang, Kabupaten Pandeglang, Kabupaten Lebak dan
Kabupaten/Kota Tangerang serta Kota Cilegon.
Adanya perubahan itu,
maka saat ini Provinsi Jawa Barat terdiri dari : 17 Kabupaten dan 9 Kotamadya,
dengan membawahkan 592 Kecamatan, 5.201 Desa dan 609 Kelurahan.
Arti
Lambang Propinsi Jawa Barat
Kujang
: Senjata khas tradisional Jawa Barat
Lubang
Lima pada Senjata Kujang : Menggambarkan Pancasila sebagai Dasar Negara
Republik Indonesia
Padi,
Kapas, Sungai, Terusan, Sawah, Perkebunan, Bendungan : Melambangkan Daerah Jawa
Barat sebagai daerah yang subur, makmur dan sejahtera
Geografis
Provinsi
Jawa Barat berada di bagian barat Pulau Jawa. Wilayahnya berbatasan
dengan Laut Jawa di utara, Jawa Tengah di timur, Samudra hindia di
selatan, serta Banten dan DKI Jakarta di barat. Kawasan pantai utara merupakan
dataran rendah. Di bagian tengah merupakan pegunungan, yakni bagian dari
rangkaian pegunungan yang membujur dari barat hingga timur Pulau Jawa. Titik
tertingginya adalah Gunung Ciremay, yang berada di sebelah barat daya Kota
Cirebon. Sungai-sungai yang cukuppenting adalah Sungai Citarum dan Sungai
Cimanuk, yang bermuara di Laut Jawa.
Kependudukan
Jawa
Barat merupakan Provinsi dengan jumlah penduduk terbanyak di Indonesia. Daerah
dengan kepadatan penduduk terbesar berada di dekat Jakarta. Bandung , ibukota
provinsi Jawa Barat merupakan kota dengan jumlah penduduk terbesar ketiga di
Indonesia setelah Jakarta dan Surabaya. Sebagian besar penduduk Jawa Barat
adalah Suku Sunda, yang bertutur menggunakan Bahasa Sunda. Di beberapa kota di
pesisir utara, di tuturkan bahasa Jawa dialek Cirebon, yang mirip dengan Bahasa
Jawa dialek Tegal. Di daerah perbatasan dengan DKI Jakarta seperti Bekasi,
Depok, dan Kabupaten Bogor bagian utara dituturkan Bahasa Indonesia dialek
Betawi. Akibat urbanisasi, penduduk di daerah sekitar Jakarta terdiri dari
berbagai etnis di Indonesia, termasuk Suku Jawa, Suku Batak, dan Suku Minang.
Potensi
Alam Jawa Barat
Pertanian,
Peternakan dan Perkebunan
Sumber
daya alam Jawa Barat cukup melimpah. Provinsi ini pada tahun 2006 memiliki
lahan sawah ber-irigasi teknis seluas 380.996 ha, sementara sawah beririgasi
setengah teknis 116,443 ha, dan sawah beririgasi non teknis seluas428.461 ha.
Total saluran irigasi di Jawa Barat Sepanjang 9.488.623 km, sawah-sawah inilah
yang pada 2006 menghasilkan 9.418.882 ton padi, terdiri atas 9,103.800 ton padi
sawah dan 315.082 ton padi ladang.
Diantara tanaman palawija , pada tahun 2006 ketela pohon menempati urutan pertama. Produksi palwija, mencapai 2.044.674 ton dengan produktifitas 179,28 kuintal per ha, kendati demikian , luas tanam terluas adalah untuk komoditas jagung yang mencapai 148.505 ha Jawa Barat juga menghasilkan hortikultura yang terdiri dari 2.938.624 ton sayur mayor, 3.193.744 ton buah-buahan, dan 159.871 ton tanaman obat/biofarmaka. Hutan di Jawa Barat juga lyas, mencapai 764.387,59 ha atau 20,62% dari total luas provinsi, terdiri dari hutan produksi seluas 362.980,40 ha (9,79%), hutan lindung seluas 228.727,11 ha (6,17%), dan hutan konservasi seluas 172.680 ha (4,63%). Pemerintah juga menaruh perhatian serius pada hutan mangrove yang mencapai 40.129,89 ha, tersebar di 10 kabupaten yang mempunyai pantai. Selain itu semua, ada lagi satu hutan lindung seluas 32.313,59 ha yang dikelola oleh Perum Perhutani Unit III Jawa Barat dan Banten.
Dari hutan produksi yang dimilikinya, pada tahun 2006 Jawa Baratmemetik hasil 200.675 m³ kayu, meskipun kebutuhan kayu di provinsi ini setiap tahun sekitar 4 juta m³. Sampai 2006, luas hutan rakyat 214.892 ha dengan produksi kayu sekitar 893.851,75 m³. jawa Barat juga menghasilkan hasil hutan non kayu cukup potensial yang dikembangkan sebagai aneka usaha kehutanan, antara lain sutra alat jamur, pinus, getah dammar, kayu putih, rotan, bamboo, dan sarang burung wallet.
Diantara tanaman palawija , pada tahun 2006 ketela pohon menempati urutan pertama. Produksi palwija, mencapai 2.044.674 ton dengan produktifitas 179,28 kuintal per ha, kendati demikian , luas tanam terluas adalah untuk komoditas jagung yang mencapai 148.505 ha Jawa Barat juga menghasilkan hortikultura yang terdiri dari 2.938.624 ton sayur mayor, 3.193.744 ton buah-buahan, dan 159.871 ton tanaman obat/biofarmaka. Hutan di Jawa Barat juga lyas, mencapai 764.387,59 ha atau 20,62% dari total luas provinsi, terdiri dari hutan produksi seluas 362.980,40 ha (9,79%), hutan lindung seluas 228.727,11 ha (6,17%), dan hutan konservasi seluas 172.680 ha (4,63%). Pemerintah juga menaruh perhatian serius pada hutan mangrove yang mencapai 40.129,89 ha, tersebar di 10 kabupaten yang mempunyai pantai. Selain itu semua, ada lagi satu hutan lindung seluas 32.313,59 ha yang dikelola oleh Perum Perhutani Unit III Jawa Barat dan Banten.
Dari hutan produksi yang dimilikinya, pada tahun 2006 Jawa Baratmemetik hasil 200.675 m³ kayu, meskipun kebutuhan kayu di provinsi ini setiap tahun sekitar 4 juta m³. Sampai 2006, luas hutan rakyat 214.892 ha dengan produksi kayu sekitar 893.851,75 m³. jawa Barat juga menghasilkan hasil hutan non kayu cukup potensial yang dikembangkan sebagai aneka usaha kehutanan, antara lain sutra alat jamur, pinus, getah dammar, kayu putih, rotan, bamboo, dan sarang burung wallet.
Di sektor perikanan, komoditas unggulan adalah ikan mas, nila, banding, lele, udang windu, kernag hijau, gurame, patin, rumput laut, dan udang vaname. Di tahun 2006, provinsi ini memanen 560,000 ton ikan hasil budidaya perikanan dan payau, atau 63,63% dari total produksi perikanan Jawa Barat. Di bidang peternakan, sapi perah, domba, ayam buras, dan itik adalah komoditas unggulan di Jawa Barat. Data 2006 menyebutkan kini tersedia 96.796 sapi perah (25% populasi nasional), 4.249.670 domba, 28.652.493 ayam buras, 5.596.882 itik (16% populasi nasional). Kini hanya tersedia 245.994 sapi potong di Jawa Barat (3% populasi nasioanl), pada hal kebutuhan tiap tahunnya sekitar 300 ribu sapi potong. Untuk memenuhi kebutuhan Jawa Barat harus mengimpor 150 ribu ternak sapi dari Australia tiap tahunnya, di samping berharap pasokan ternak hidup dari provinsi lain terutama Jawa Timur, Jawa Tengah, Daerah Istimewa Yogyakarta, Lamoung, Bali, Lombok, dan lain-lain. Dalam memaksimalisasi sektor peternakannya, Jawa Barat membagi kawasan pengembangan andalan peternakan ke dalam tiga wilayah, yaitu :
1. Jawa Barat Bagian Utara untuk peternakan itik
2. Jawa
Barat Bagian Tengah untuk sapi perah, ayam ras, dan domba; serta
3. Jawa
Barat Bagian Selatan untuk domba dan sapi potong
Provinsi ini memiliki banyak objek unggulan di bidang perkebunan, antara lain; the, cengkeh, kelapa, karet, kakao,tembakau,dan kopi merupakan komoditas unuggulan nsional asal Jawa Barat. Di sisi lain lahan, produktifitas terbaiknya, yakni luas areal tanam sama dengan luas tanaman yang menghasilkan, adalah komoditas temabakau dan tebu.
Dari sisi produksi, produktifitas terbanyak adalah kelapa sawit (6,5 ton per ha) dan tebu (5,5 ton per ha). Jawa Barat juga menghasilkan produksi tambang unggulan. Pada tahun 2006 , berahasil diekplorasi 5.284 ton zeolit, 47.978 ton bentonit, serta pasir besi, semen pozolan, feldspar dan barn permata/gemstone. Potensi pertambangan batu mulia umunya banyak terdapat di daerah Kabupaten Garut, Tasikmalaya, Kuningan, dan Sukabumi.
Pertambangan
Daerah
Jawa Barat mempunyai berbagai potensi bahan tambang dan galian, seperti minyak
dan gas bumi di daerah Cirebon dan Indarmayu, tambang emas di Gunung Pongkor,
Gunung Limbung, dan Purwakarta. Selain itu, Jawa Barat juga memliki bahan
galian marmer di daerah Tasikmalaya, Bandung dan Sukabumi. Batu kwarsa banyak
terdapat di Bogor, Sukabumi, Bekasi, dan Cirebon, fosfat banyak terdapat di
daerah Ciamis dan Sukabumi, serta bentonit, zenit dan gips tersebar dibeberapa
daerah. Produksi bahan galian golongan C di Jawa Barat tahun 1997 adalah
sebagai berikut: batu kapur12.650.408 ton, pasir 1.487.630 ton, pasir kuarsa,
sirtu 2.158.126 ton, 144.710 ton, tanah liat 2.074.489 ton, dan tanah urug
1.623.186 ton; andesit 4.620.641 ton, bentonit 41.591 ton; fosfat 9.454 ton
ton; kaolin 2.623 ton; trass768.280 ton; dan zeolit 2.553 ton. Hasil produksi
bahan galian tahun 1998 menunjukan data berikut: andesit 1.324.321 ton; batu
kapur 3.481.841 ton; bentonit 43.576 ton; diatom 19.361 ton; feldspar 5.457
ton; gypsum 1.648 ton; marmer 103 ton; sirtu 274.474 ton; pasir 48.626 ton;
pasir kuarsa 126.286 ton; tanah liat 85.182 ton; trass 42.936 ton; zeolit 1.452
ton; yarosit 324 ton.
Industri
Industri
Kontribusi industri cukup menonjol bagi perekonomian nasioanl, termasuk bagi
daerah Jawa Barat. Hampir 60% industri pengolahan berlokasi di Jawa Barat,
sehingga perekonomian nasioanal sangat dipengaruhi oleh kinerja industri
di daerah ini. Dalam struktur perekonomian di Jawa Barat, sektor industri
memilki kontribusi terbesar dan menduduki peringkat pertama, disusul oleh
sektor pertanian. Sektor ini khusunya industri pengolahan, mampu meyerap jumlah
tenaga kerja ter besar kedua sesudah pertanian. Berbagai industri di Jawa Barat
sudah berkembang dengan pesat, antara lain industri pesawat terbang, industri
senjata ringan, dan telekomunikasi di Bandung dan industri dinamit di
Tasikmalaya. Industri lain yang cukup menonjol antara lain industri besi baja
di Cilegon, industri elektronik di Bandung, industri kertas di Padalarang, dan
Bekasi, industri semen di Cibinong, Citeureup dan Cirebon, industri pupuk di
Cikampek, aneka industri dengan komoditas tekstil, benang tenun, dan pakaian
jadi di daerah cekungan Bandung, serta industri minuman, makanan, rokok, kulit,
keramik, di sekitar Bandung, Tangerang, Bekasi, dan Cirebon. Industri-industri
kecil dan rumah tangga yang banyak terdapat di Bekasi, Bogor, Tangerang, Depok,
Kota Bandung,Cianjur dan Tasikmalaya juga berkembang pesat dalam beberapa tahun
terakhir. Potensi lain yang dapat dimanfaatkan untuk mengembangkan berbagai
aneka undustri dan industri utama di Jawa Barat adalah peguruan tinggi dan lembaga
penelitian yang ada di daerah itu, seperti Institut teknologi Bandung (ITB);
Institut Pertanian Bogor (IPB); LAPAN, dan Badan Reaktor Atom Negara (BATAN).
Selain itu, besarnya jumlah penduduk dan SDM yang berkualitas merupakan potensi
pendukung untuk mengembangkan ilmu pengetahuandan tenologi tinggi (Iptek) di
Jawa Barat. Jumlah industri utama di Jawa Barat (1997) adalah sebagai berikut:
industri makanan, minuman, dan tembakau berjumlah 100 unit dengan tenaga kerja
119.745 orang; industri tekstil pakaian jadi dan kulit sebanyak 1.744 unit
dengan tenaga kerja 783.745 orang; industri kayu dan barang-barang dari kayu
termasuk alat-alat kayu 483 unit dengan tanaga kerja 7.174 orang; jumlah
undustri kertas dan barang-barang dari kertas cetakan dan penerbitan 207
unit dengan tenaga kerja 46,428 orang; industri barang galian bukan logam
kecuali minyak bumi 815 unit dengan tenaga kerja 82.308 orang; industri logam
dasar 63 unit dengan tenaga kerja 19.755 orang; industri mesin dan peralatan
lain 903 unit dengan tenaga kerja 209.776 orang; dan industri pengolahan lain
berjumalah 143 unit dengan tenaga kerja 37.988 orang. Hasil produksi industri
kecil berupa makanan dan minuman, sandang dan kulit, kimia dan bahan-bahan
bangunan, kerajinan umum dan logam mengalami perkembangan pesat. Total jumlah
industri di Jawa Barat (1997) berjumlah sekitar 6.085 unit, baik industri
besar, sedang maupun kecil, dan menyerap tenaga kerja lebih dari 1,5 juta
orang. Investasi di daerah Jawa Barat tahun 1998 adalah: persetujuan PMA US$
81,035,000 dan persetujuan PMDN Rp jumlah tersebut untuk waktu sekarang sudah
terlampau kecil. Nilai tamabh hasil industri di Jawa Barat tahun1997 adalah
sebagai berikut: dari industri makanan, minuman dan tembakau Rp
2.425.086.000.000; industri tekstil dan pakaian jadi dan kulit Rp
10.825.000.000; industri kayu dan barang-barang dari kayu Rp 895.538.000.000;
industri kertas dan barang-barang dai kertas Rp 1.258.060.000.000; industri
kimia dan barang- barang dari kimia, minyak , batu bara , karet dan bahan
plastic rp 6.329.237.000.000 ; industri barang logam dan mesin termasuk
peralatannya Rp 9.458.654.000.000; dan industri pengolahan lainnya Rp
614.059.000.000. jadi total nilai tambah dari hasil industri daerah Jawa Barat
tahun 1997 adalah sekitar Rp 35.862.641.000.000.
Flora
Di
Jawa Barat terdapat 3.882 spesies tumbuhan berbunga dan tumbuhan paku asli Jawa
Barat dan 258 jenis yang dimasukan dari luar Jawa Barat. Khusus untuk Anggrek
(Orchidaceae) di Pulau Jawa, di Jawa Barat terdapat 607 jenis alami, 302 jenis
(50%) hanya ada di Jawa Barat. Tumbuhan termasuk pohon, di Jawa Barat terdapat
1.106 jenis dengan 51 jenis disebut dengan pohon-pohon yang penting,
diantaranya jati, rasamala, kepuh, jamuju, bayur, puspa, kosambi, beleketebe,
pasang, pedada, baku, dll. Tipetipe vegetasi yang ada di Jawa Barat menurut Van
Steenis adalah:
- 1. Vegetasi Litoral
- 2. Hutan Baku
- 3. Formasi Pantai
- 4. Hutan Rawa Dataran Rendah
- 5. Hutan Hujan Rendah dan Perbukitan
- 6. Hutan Hujan Pegunungan
- 7. Danau dan Rawa Pegunungan
Fauna
Secara
umum, baik di Jawa Barat maupun di dunia, dunia fauna dapat dikelompokan
menjadi kelompok-kelompok sebagai berikut:
Kelompok
Serangga
Kelompok
ini mempunyai berbagai macam manfaat. Salah satu perannya yang sangat penting
adalah proses penyerbukan yang dilakukan oleh kupu-kupu. Namun saat ini
keberagamannya sudah sangat berkurang, dikarenakan berkurangnya habitat dan
ekspolitasi oleh manusia.
Kelompok
Pisces
Ikan
–ikan yang dijumpai di tiga daerah alira sungai Citarum dan tiga waduk besar di
wilayah Jawa Barat yaitu: jatiluhur, Carita dan Saguling dijumpai jenis-jenis
ikan sebagai berikut: ikan yang menjadi cirri khas sungai Citarum :
tagih/baung, hampal, keting, dan udang batu. Ikan khas sungai Citarum yang sudah
tidak ditemukan lagi setelah pembangunan waduk : tawes, lelawak, sengal,
arengan, walangi Ikan yang masih bisa ditemukan di sungai dan waduk
: deleg, sidat/moa, betook, pepetek, kebo gerang, julung-julung, keting,
beureum panon, beunteur, sepat, paray, betutu/bodo, jeler, oleng, gabus,
belut Ikan budidaya yang introduksi ke perairan waduk : patin, ikan mas,
nila, gurame. Ikan hias yang di introduksi ke perairan waduk : arwana, golsom,
oskar. Ikan yang secara tradisi dikonsumsi oleh masyarakat sekitar : tagih,
baung. Ikan atau udang yang dijumpai dalam periode tertentu.
Kelompok
Reptil
Kelompok
ini semakin hari semakin langka, hal ini disebabkab habitat yang tersedia
semakin berkurang dan belum satupun dari jenis kelompok ini yang dibudidayakan.
Beberapa jenis Reptil yang masih bisa dijumpai adalah : biawak ( Tasikmalaya)
dan kura-kura (Bogor)
Kelompok
Aves
Kelangkaan
jenis burung lebih dikarenakan nilai ekonomis yang sangat tinggi sebagai hewan
peliharaan. Di danau-danau kecil di Sentul (Bogor) beberapa jenis burung air
masih bisa dijumpai, seperti: belekok, bangau, dan raja udang.
Kelompok
Mamalia
Kelangkaan
jenis mamalia disebabkan dua hal, aktifitas perburuan, dan habitatnya
terganggu. Banten di Hutsn Sancang (Garut) dan Pangandaran sudah semakin
berkurang. Rusa ditangkaran di Ranca Upas.
Tokoh Pergerakan dan Pahlawan Nasional
RADEN
DEWI SARTIKA (1884 -1947)
Tempat/Tgl.Lahir
: Cicalengka, 4 Desember 1884
Tempat/Tgl.
Wafat
: Cinean, 11 September 1947
SK
Presiden
: No. 252 Tahun 1966, Tgl. 1 Desember 1966
Raden
Dewi Sartika merupakan putrid dari raden Somanagara yang juga giat melawan
pemerintah Belanda. Meskipun melanggar ada saat itu, orang tua beliau
bersikukuh menyekolahkan Dewi Sartika ke sekolah Belanda. Pendidikan yang
dimiliki dan diskriminasi gender pada saat itu beliau tertantang mendirirkan
sekolah untuk anak-anak perempuan. Setelah menikah dengan Raden Kanduruan Agah
Suriawinata, guru di sekolah Karang Pamulang, pada tanggal 16 Januari 1904
beliau mendirikan Sekolah Istri di Bandung yang merupakan sekolah perempuan
pertama se-Hindia Belanda. Antusiasme kaum perempuan sangat besar sehingga
sekolah dipindahkan dan pada tahun 1910 berganti nama menjadi Sekolah Keutamaan
Istri. Setelah memilki gedung sendiri, namanya berganti lagi menjadi Sekolah
Raden dewi pada tahun 1929. sekolah ini memberikan pengetahuan dan pembianaan
rumah tangga. Sekolah ini terus berkembang dan menyebar ke daerah Garut,
Tasikmalaya, dan Purwakarta. Pendirian sekolah tidak lepas dari campur tangan
suaminya. Jasa beliau dalam mencerdaskan rakyat, khususnya kaum wanita,
mendapatkan penghargaan bintang perak dari pemerintah Belanda.
Ir.H.
DJUANDA KARTAWIJAYA (1911 – 1963)
Tempat/Tgl.Lahir
: Tasikmalaya,14 Januari 1911
Tempat/Tgl.
Wafat
: Jakarta, 7 November 1963
SK
Presiden
: No. 244/TK/ Tahun 1963, Tgl. 29 November 1963
Ir.H.
Djuanda Kartawijaya lulus dari Technische Hooge School (sekarang ITB) tahun
1933 dan dikenal sebagai sosok yang cerdas. Setelah lulus, beliau memilih
menjadi guru SMA Muhamadiyah dari pada menjadi asisten dosen di almamaternya.
Empat tahun kemudian, beliau menjadi tenaga ahli pada jawatan pengairan Jawa
Barat dan anggota Dewan Daerah Jakarta. Beliau pernah menjabat jawatan Kereta
Api Jawa-Madura,mentri perhubungan, dan 17 kali menduduki jabatan di cabinet.
Ketika ditawari bergabung dalam Negara Pasundan cpitaan Belanda, beliau langsun
menolak. Saat mengundurkan diri, tetapi bergeming dan justru berhasil mengatasi
pemberontakan tersebut. Kepedulian beliau terhadap permasalahan Pembangunan dan
ekonomi Indonesia sangat besar. Salah satu sumbangannya yang terbesar adalah
Deklarasi Djuanda pda tahun 1957 yang mengatakan bahwa wilayah perairan
Indonesia menjadi satu kesatuan wilayah NKRI. Beliau dimakamkan di TMP
Kalibata, Jakarta.
GATOT
MANGKUPRAJA (1898 – 1968)
Tempat/Tgl.Lahir
: Sumedang, 15 Desember 1898
Tempat/Tgl.
Wafat :
Bandung, 4 Oktober 1968
SK
Presiden
: No. 089/TK/ Tahun 2004, Tgl. 5 November 2004
Gatot
Mangkupraja sempat bersekolah STOPIA dan HBS, tetapi tidak selesai. Beliau
aktif berorganisasi di Algemeene Study Club dan menjadi menjadi sekretaris
pusat Partai Nasional Indonesia (PNI) pimpinan Soekarno. Belanda menganggap
bahwa PNI adalah pemberontak dan ingin menggilingkan pemeritahan. Oleh karena
itu Gatot, Soekarno, dan Maskun ditangkap di Solo pada tanggal 29 Desember
1929. mereka dibawa ke penjara Banceuy, Bandung dan divonis hukuman dua tahun
di penjara Sukamiskin. Setelah bebas dan PNI dibubarkan, beliau memilih Partido
sebagai partainya. Pada tanggal 18 Agustus 1930, beliau bersama Maskun,
Soekarno, dan Soepriadinata dimejahiajaukan Belanda dengan tuduhan
pemberontakan menggunakan artikel 169 bis dan 153 bis Wetboek va Strafrecht
(KUHP-nya zaman colonial). Dalam pembelaannya di pengadilan Soekarno
menyampaikan pidato yang sangat memukau dan kenudian dikenal sebagai Indonesia
menggugat. Pada tahun 1933 , beliau bergabung dengan Bung Hatta di PNI-baru,
setelah sebelumnya menjadi anggota Partindo. Ketika membuka usaha toko obat,
beliau berteman dengan tokoh-tokoh Jepang. Kedekatan ini dimanfaatkan dengan
mengusulkan pembentukan pasukan Indonesia, pada tanggal 7 September 1947. Pada
tanggal 7Oktober 1943 , akhirnya Jepang membentuk Pembela Tanah Air (PETA)
dengan tujuan utama membantu Jepang mempertahankan diri dari serangan sekutu.
Gatot ditangkap sekutu pada tahun 1946 da ditahan di pulau Onrust,
Jakarta. Setelah bebas, beliau menjadi anggota KNPI, DPR, dan MPRS. Beliau
meninggal karena sakit di usia 70 tahun.
Prof.M.R.R.H.
IWA KUSUMA SUMANTRI. SH (1899 -1971)
Tempat/Tgl.Lahir
: Ciamis, 31 Mei 1899
Tempat/Tgl.
Wafat
: Jakarta, 27 November 1971
SK
Presiden
: No. 073/TK/Tahun 2002, Tgl. 6 November 2002
Pada
saat mengikuti pendidikan OSVIA di Bandung, beliau pundah k eke Recht School
(Sekolah Hukum) di Jakarta hinggatahun 1921. beliau memperdalam ilmu hokum di
Universitas Leiden, Belanda, setahun kemudian. Di Belanda, beliau bergabung
dengan Indonesisch Vereeniging. Atas usulannya, organisasi tersebut berganti
menjadi Perhimpunan Indonesia (PI) dan menjabat ketua. PI berjuang mencapai
dengan cara bersatu tanpa membedakan suku dan golongan. Selain itu, PI berpaham
nonkooperasi, artinya tidak mau bekerjasa dengan colonial Belanda. Sekembali ke
tanah air, beliau pindah ke Medan dan menerbitkan surat kabar Matahari
Indonesia. Pada bulan Juli 1929, Belanda mengkapnya di Medan, lalu dipndahkan
ke Jakarta, sebelum diasingkan ke Banda Neira selam sebelas tahun. Pada akhir
Februari 1941, beliau di pindahkan ke makassar . pada masa kabinet
presidensial, Iwa menjabat sebagai menteri social. Ketika system pemerintah
menjadi cabinet parlementer, Iwa bergabung dengan Persatuan Perjuangan Pimpinan
Tan Malaka yang menentang politik pemerintah karena bersedia berunding dengan
Belanda. Ketika RI sudah di akui kedaulatannya, beliau menjabat beberapa
poisisi menteri. Pada tahun 1957, beliau diangkat sebagai rector Universita
Padjajaran dan emoat tahun kemudian menjadi menteri perguruan tinggi dan ilmu
pengetahuan.
K.H.
NOER ALI (1914 -1992)
Tempat/Tgl.Lahir
: Bekasi , 1914
Tempat/Tgl.
Wafat :
Bekasi, 29 Januari 1992
SK
Presiden
: No. 085/TK/Tahun 2006, Tgl. 3 November 2006
Setelah
belajar ilmu agama pada guru agama di sekita Bekasi, beliau pergi ke Mekah
untuk beribadah dan memperdalam ilmu agama selama empat tahun. Selain belajar,
beliau aktif berorganisasi di persatuan Tabalan Indonesia dan Perhimpunan
Pelajar Indonesia-Malaya. Setelah kembali ke Indinesia, beliau mengajar
di Mesjid Ujungmalang. Pada bulan September 1945, beliau ikut berjuang
mempertahankan kemerdekaan dari Inggris dan Belanda dengan membentuk lascar
rakyat. Laskar ini dibubarkan karena Noer Ali menolak menempatkan di bawah
naungan partai politik Persatuan Perjuangan pimpinan Tan Malaka. Sesudah
perang kemerdekaan berakhir,beliau aktif di partai Masyumi dan memegang berbagi
jabatan di organisasi keagamaan, termasuk Majelis Ulama Indonesia. (MUI).
K.H.
ZAENAL MUSTOFA (1899 – 1944)
Tempat/Tgl.Lahir
: Tasikmalaya, 1899
Tempat/Tgl.
Wafat :
Jakarta , 28 Maret 1944
SK
Presiden
: No. 064/TK/ Tahun 1972, Tgl 6 November 1972
Nama
asli K.h. Zaenal Mustofa adalah Umri alias Hudaemi. Namanya berganti menjadi
K.H. Mustofo setelah menunaikan ibadah haji. Beliau menghabiskan masa kecilnya
dengan mendalami pelajaran agama di pesantren di Jawa Barat. Mulai pesantren
Sukamanah yang didirikannya, beliau berusaha memajukan umat Islam di
Indonedisia. Namun ,hal ini di anggap pemerintah sebagai pemberontakan sehingga
pada tanggal 17 November 1941 beliauditangkap dan dipenjara di penjara Suka
miskin, Bandung. Pada masa pendudukan Jepang, beliau menentang romusha dan
kegiatan Seikeirei, yaitu memberi hormat dan mendudukan kepala kea rah matahari
terbit. Beliau kemudian membentuk Pasukan Tempur Sukamanah untuk melancarkan
perlawanan tehadap Jepang pada tanggal 25 Februari 1944. Pertempuran dimengkan
Mustofo tetapi Jepang kembali meyerang dengan kekuatan yang lebih besar. Zaenal
Mustofa tertangkap dan dijatuhi hikuman mati. Makam beliau dipindahkan ke Taman
Makam Pahlawan Tasikmalaya pada tanggal 10 November 1974.
Prof.Dr.
KUSUMAH ATMAJA. SH (1898 – 1952)
Tempat/Tgl.Lahir
: Purwakarta, 8 September 1898
Tempat/Tgl.
Wafat :
Jakarta, 11 Agustus 1952
SK
Presiden
: No. 124 Tahun 1965, Tgl. 14 Mei 1965
Prof.Dr.
Kusuma Atmaja memiliki nama lengkap Sulaiman Effendi Kusumah Atmaja. Beliau
adalah lulusan sekolah hokum di Jakarta dan bekerja di Pengadilan Negri Bogor
dan Medan. Pada tahun 1922, beliau memperoleh gelar doktor dari Universitas
Leiden, Belanda, jurusan hokum. Kusuma Atmaja memang tidak aktif di
partai politik karena lebih banyak bergerak di bidang pengadilan
yang menuntut kenetralan. Beliau berjuang dengan cara membantu tokoh-tokoh
pergerakan nasional dalam mencapai kemerdekaan. Setelah Indonesia Merdekam,
Kusuma Atmaja menjadi ketua Mahkamah Agung RI serta guru besar Sekolah Tinggi
Kepolisian dan Universiatas Gajah Mada. Beliau sempat ditawari menjadi ketua
Mahkamah Agung dan Wali Negara Pasundan oleh Belanda tetapi dengan tegas
menolak.
Laksaman
R. EDY MARTADINATA (1921 – 1966)
Tempat/Tgl.Lahir
: Bandung, 29 Maret 1921
Tempat/Tgl.
Wafat
: Riung Gunung, 6 Oktober 1966
SK
Presiden :
No. 220 Tahun 1966, Tgl. 7 Oktober 1966
R.
Edy Martadinata adalah seorang lulusan sekolah pelayaran (Zeevaart School) di
Surabaya. Pada masa pendudukan Jepang, beliau bekerja sebagai aspiran dan
penerjemah di sekolah pelayaran tinggi Semarang. Setelah kemerdekaan Indonesia,
beliau membentuk Angkatan Laut Republik Indonesia (ALRI) dan menjabat kepal
Staf Operasi dan Markas Besar ALRI di Yogyakarta. Sebagai Staf Komando Daerah
Maritim Surabaya, beliau dapat memdamkan pemberontakan Andi Aziz di Sulawesi
Selatan. Tahun 1953, beliau belajar di Amerika Serikat. Beliau juga pernah
dikirim ke luar negri untuk mengawasi pembelian kapal-kapal ALRI. Ketika kepala
Staf ALRI Laksamana Subiyakto dituntut untuk diganti, R.E. Martadinata terpilih
untuk menggantikan. Pada bulan februari 1966, beliau berhenti sebagai Kepala
Staf ALRI dan menjadi duta Besar RI untuk Pakistan. Beliau gugur dalam
kecelakaan helkopter yang ditumpanginya.
MASKUN
SUMADIREJA (1907 – 1986)
Tempat/Tgl.Lahir
: Bandung, 25 Mei 1907
Tempat/Tgl.
Wafat :
Bandung, 4 Januari 1986
SK
Presiden :
No. 089/TK/Tahun 2004, Tgl. November 2004
Maskun
berjuang melawan Belanda sejak berusia 20 tahun. Maskun bergabung dengan Partai
Nasional Indonesia (PNI) yang dipimpin Soekarno. Di partai ini, beliau menjabat
sebagai komisaris merangkap sekertaris dua PNI cabang Bandung. Pada tanggal 29
Desember 1929, beliau dan tokoh-tokoh PNI lainnya ditangkap karena dianggap
memberotak. Mereka dibawa ke Bandung dan dipenjarakan di Penjara Banceuy.
Setelah bebas, beliau bergabung dengan PNI-baru pimpinan Bung Hatta. Ketika
Soekarno memproklamasikan kemerdekaan Maskun berada di Australia dengan status
tahanan politik (tapol). Beliau dan tapol Indonesia. Setelah kembali ke
Indonesia, beliau di tempatkan di Departemen Penerangan. Setelah itu, beliau
dipindahkan ke Departemen Dalam Negeri dengan jabatan terakhir kepala
direktorat politik.
R.
OTTO ISKANDAR DINATA (1897 -1945)
Tempat/Tgl.Lahir
: Bandung, 31 Maret 1897
Tempat/Tgl.
Wafat :
Banten, 20 Desember 1945
SK
Presiden
: No. 088/TK/Tahun 1973, Tgl. 6 November 1973
Otto Iskandar Dinata bersekolah di Sekolah Guru Atas
di Purworejo. Setelah itu, beliau diangkat menjadi guru di Banjarnegara, lalu
Pekalongan. Di kota ini, beliau menjadi wakil Budi Utomo di Dewan Kota. Melalui
Dewan ini, Otto sering mengkritik Belanda yang bertindak kasardan
sewenang-wenang kepada para petani Indonesia. Keberanian ini menyebabkab beliau
bertengkar dengan Residen Pekalongan sehingga terpaksa pindah ke Jakarta dan
mengajar disana. Selain itu, beliau memimpin Paguyuban Pasundan hingga berhasil
mendirikan sekolah, bank, dan fasilitas umum lainnya yang berguna untuk
masyarakat. Pada tahun 1939, Paguyuban Pasundan menjadi GAPI ( Gabungan Politik
Indonesia), GAPI dilarang oleh Jepang. Beliau kemudian mulai berkecimpung di
bidang kewartawanan dan duduk dalam PPKI untuk menyusun UUD 1945. Dalam Kabinet
Presidensial, beliau diangkat menjadi Mentri Negara. Beliau meninggal karena
diculik dan dibunuh oleh orang-orang yang tidak bertanggungjawab
Sumber :
http://www.jabar.go.id/jabar/public/98694/menu.html
http://mukhlisdinillah.blogspot.com/2013/05/profil-provinsi-jawa-barat.html




0 komentar:
Posting Komentar