BAB I
PENDAHULUAN
1.1.
Latar Belakang
Setiap manusia yang hidup di dunia pasti pernah
merasakan penderitaan. Baik itu ringan atau berat. Hidup tidaklah selalu
bahagia, Tuhan memiliki caranya sendiri untuk mengukur seberapa kuat iman
kepadanya. Hidup di duniapun tidak selalu menderita, sedih, ataupun susah.
Terkadang saat manusia terlalu terbuai dengan
kesenangan duniawi manusia akan melupakan batasan-batasan yang ada sehingga
Tuhan akan memberikan cobaan untuknya yang membuatnya menderita.
Penderitaan selalu datang tak terduga, manusia takkan pernah tahu kapan,
jam berapa, menit berapa, dan detik berapa penderitaan akan datang menghampiri
hidupnya. Manusia hanya perlu menjalani hidupnya dengan sebaik-baiknya dengan
aturan yang berlaku dan sesuai kepercayaan yang ia anut.
1.2.
Rumusan Masalah
1. Pengertian Penderitaan.
2. Hubungan
Manusia dan Penderitaan.
3. Bagaimana
Manusia Menghadapi Penderitaan.
4. Sebab-sebab Penderitaan
beserta Contohnya.
5. Siksaan.
6. Kekalutan
Mental.
7. Penderitaan
dan Perjuangan.
8. Penderitaan,
Media Massa dan Seniman.
9. Pengaruh
Penderitaan Terhadap Kelangsungan Hidup Manusia.
10. Study
Kasus.
1.3.
Tujuan
1. Untuk
mengetahui dan memahami tentang hubungan manusia dengan penderitaan.
2. Untuk memahami berbagai
macam penyebab manusia mengalami penderitaan.
3. Untuk memahami
apa saja jenis penderitaan yang terjadi pada manusia berikut dengan
contoh-contoh kasusnya.
BAB II
LANDASAN TEORI
2.1.
Pengertian
Penderitaan
Penderitaan adalah bahasa yang sering kita dengar.
Penderitaan berasal dari kata derita.
Kata derita berasal dari
bahasa Sansekerta ‘dhra’ artinya menahan atau
menanggung. Derita artinya menanggung atau merasakan sesuatu yang tidak
menyenangkan. Penderitaan bisa bersifat lahir dan bersifat batin. Setiap
manusia memiliki penderitaan yang berbeda-beda. Manusia
dikatakan menderita apabila dia memiliki masalah, depresi karena tekanan hidup,
dan lain lain.
Penderitaan termasuk realitas dunia dan manusia. Intensitas
penderitaan manusia bertingkat-tingkat, ada yang berat dan ada juga yang
ringan. Akibat penderitaan yang bermacam-macam,
ada
yang mendapat hikmah besar dari suatu penderitaan, ada pula yang menyebabkan
kegelapan dalam hidupnya. Oleh karena itu, penderitaan belum tentu tidak
bermanfaat. Penderitaan juga dapat ‘menular’ dari seseorang kepada orang
lain, apalagi kalau yang ditulari itu masih sanak saudara.
Menurut agama penderitaan itu adalah teguran dari Tuhan. Penderitaan ada
yang ringan dan berat, contoh penderitaan
yang ringan adalah ketika seseorang mengalami kegagalan dalam menggapai
keinginannya. Sedangkan contoh dari penderitaan berat adalah ketika seorang
manusia mengalami kejadian pahit dalam hidupnya hingga ia merasa tertekan
jiwanya sampai terkadang ingin mengakhiri
hidupnya.
Penderitaan adalah termasuk realitas manusia di dunia. Namun peranan
individu juga menentukan berat-tidaknya intensitas penderitaan. Suatu
peristiwa yang dianggap penderitaan oleh seseorang belum tentu
merupakan penderitaan bagi orang lain. Penderitaan adalah bagian dari
kehidupan.
2.2.
Hubungan
Manusia dan Penderitaan
Allah
adalah pencipta segala sesuatu yang ada di alam semesta ini. Dialah yang maha
kuasa atas segala yang ada di isi
jagad raya ini. Beliau menciptakan makhluk
yang bernyawa dan tak bernyawa. Allah tetap kekal dan tak pernah terikat dengan
penderitaan. Makhluk
bernyawa memiliki sifat ingin tepenuhi segala hasrat dan keinginannya. Perlu di
pahami makhluk hidup selalu membutuhkan pembaharuan dalam diri, seperti
memerlukan bahan pangan untuk kelangsungan hidup, membutuhkan air dan udara, dan
membutuhkan penyegaran rohani berupa ketenangan. Apabila tidak terpenuhi
manusia akan mengalami penderitaan. Dan bila sengaja tidak di penuhi manusia
telah melakukan penganiayaan. Namun bila hasrat menjadi patokan untuk selalu di
penuhi akan membawa pada kesesatan yang berujung pada penderitaan kekal di
akhirat.
Manusia
sebagai mahluk yang berakal dan berfikir, tidak hanya menggunakan insting namun
juga pemikirannya dan perasaanya. Tidak hanya naluri namun juga nurani. Manusia
diciptakan sebagai mahluk yang paling mulia namun manusia tidak dapat berdiri
sendiri secara mutlah. Manusia perlu menjaga dirinya dan selalu mengharapkan
perlindungan kepada penciptanya. Manusia kadang kala mengalami kesusahan dalam
penghidupanya, dan terkadang sakit jasmaninya akibat tidak dapat memenuhi
penghidupannya.
Manusia memerlukan rasa aman agar dirinya terhindar dari penyiksaan. Karena bila tidak
dapat memenuhi rasa aman manusia akan mengalami rasa sakit. Manusia selalu
berusaha memahami kehendak Allah, karena bila hanya memenuhi kehendak untuk
mencapai hasrat, walau tidak menderita didunia, namun sikap memenuhi kehendak
hanya akan membawa pada pintu-pintu kesesatan dan membawa pada penyiksaan didalam
neraka.
Manusia
didunia melakukan kenikmatan berlebihan akan membawa pada penderitaan dan rasa
sakit. Muncul penyakit jasmani juga terkadang muncul dari penyakit rohani.
Manusia mendapat penyiksaan di dunia agar kembali pada jalan Allah dan menyadari
kesalahanya. Namun bila manusia tidak menyadari malah semakin menjauhkan diri
maka akan membawa pada pederitaan di akhirat. Banyak yang salah kaprah dalam
menyikapi penderitaan. Ada yang menganggap
sebagai menikmati rasa sakit sehingga tidak beranjak dari kesesatan. Sangat
terlihat penderitaan memiliki kaitan dengan kehidupan manusia berupa siksaan,
kemudian rasa sakit, yang terkadang membuat manusia mengalami kekalutan mental.
Apabila manusia tidak mampu melewati proses tersebut dengan ketabahan, di akherat
kelak dapat menggiring manusia pada penyiksaan yang pedih di dalam neraka.
2.3.
Bagaimana Manusia Menghadapi Penderitaan
Bagaimana
manusia menghadapi penderitaan dalam hidupnya? Penderitaan fisik yang dialami manusia
tentulah diatasi dengan cara medis untuk mengurangi atau menyembuhkannya,
sedangkan penderitan psikis, penyembuhannya terletak pada kemampuan si
penderita dalam menyelesaikan soal-soal psikis yang dihadapinya, selain itu
bisa juga dengan bantuan ahli psikis.
2.4.
Sebab-sebab
Penderitaan beserta Contohnya
2.4.1.
Penderitaan yang Muncul Karena Perbuatan Buruk Manusia
Penderitaan
ini muncul disebabkan hubungan antara manusia dengan lingkungan sekitarnya, baik dengan antar sesama manusia
ataupun dengan alam. Penderitaan ini dapat muncul karena ketidak harmonisan
antara elemen satu dengan yang lainnya. Contohnya pada hubungan dalam
bermasyarakat, ada kalanya didalam bermasyarakat terdapat perbedaan pendapat
yang dapat menimbulkan perselisihan diantara satu dengan yang lainnya, hal ini
bisa saja mengakibatkan timbulnya rasa dengki, marah, bahkan saling menuduh
atau menjelek-jelekan. Dari sinilah penderitaan muncul karena perbuatan saling
tidak menyukai tersebut. Dalam hal ini, penderitaan yang dialami adalah penderitaan
secara batin karena terdapat rasa sakit hati apabila ada seseorang yang
menjelek-jelekan bahkan rasa itu bisa saja semakin sakit apabila sudah terjadi
pertengkaran yang membuat hubungan didalam masyarakat sudah tidak ada rasa
nyaman dan aman. Selain karena ketidak harmonisan dengan sesama, ketidak
harmonisan dengan alam juga dapat membawa penderitaan. Contohnya apa yang sedang terjadi saat
ini yaitu bencana alam terjadi dimana-mana. Karena kesalahan manusia terhadap alam
lah yang membuat alam menjadi tidak bersahabat lagi dengan manusia maka muncul
lah penderitaan pada setiap orang yang terkena bencana alam. Penderitaan yang dialami adalah
penderitaan secara fisik dan batin, karena mereka yang terkena bencana alam
harus rela kehilangan harta benda bahkan keluarga mereka.
2.4.2. Penderitaan yang Muncul Karena Suatu Penyakit /
Siksaan (Azab dari Allah)
Penderitaan manusia
dapat juga terjadi akibat penyakit atau siksaan / azab Tuhan. Namun kesabaran,
tawakal, dan optimis dapat merupakan usaha manusia untuk mengatasi penderitaan
itu. Banyak contoh kasus penderitaan semacam ini dialami manusia. Beberapa
kasus penderitaan dapat diungkapkan berikut ini : Seorang anak lelaki buta
sejak diahirkan, diasuh dengan tabah oleh orang tuanya. Ia disekolahkan,
kecerdasannya luar biasa. Walaupun ia tidak dapat melihat dengan mata, hatinya terang
benderang. Karena kecerdasannya, ia memperoleh pendidikan sampai di universitas
dan akhirnya memperoleh gelar doctor di Universitas Sourbone Perancis. Dia
adalah Prof.Dr. Thaha Husen, guru besar Universitas di Kairo, Mesir.
2.5.
Siksaan
Penderitaan biasanya di sebabkan oleh siksaan. Baik fisik ataupun
jiwanya. Siksaan atau penyiksaan (Bahasa Inggris: torture) digunakan untuk
merujuk pada penciptaan rasa sakit untuk menghancurkan kekerasan hati korban.
Segala tindakan yang menyebabkan penderitaan, baik secara fisik maupun psikologis,
yang dengan sengaja dilakukan terhadap seseorang dengan tujuan intimidasi,
balas dendam, hukuman, pemaksaan informasi, atau mendapatkan pengakuan palsu
untuk propaganda atau tujuan politik dapat disebut sebagai penyiksaan. Siksaan
dapat digunakan sebagai suatu cara interogasi untuk mendapatkan pengakuan.
Siksaan juga dapat digunakan sebagai metode pemaksaan atau sebagai alat untuk
mengendalikan kelompok yang dianggap sebagai ancaman bagi suatu pemerintah.
Ada
beberapa siksaan yang bersifat psikis:
1. Kebimbangan
Siksaan ini terjadi ketika manusia
sulit untuk menentukam pilihan yang mana akan mereka ambil dan mereka tidak
ambil. Situasi ini sangat membuat psikis manusia tidak stabil dan butuh
pertimbangan yang amat sangat sulit.
2. Kesepian
Kesepian disini bukan diartikan seseorang yang tinggal dihutan maupun
tinggal ditempat yang tidak ada penghuninya tetapi merupakan rasa sepi yang dia
alami pada dirinya sendiri / jiwanya walaupun ia dalam lingkungan orang ramai.
Sebaiknya kesepian harus segera diatasi agar kita tidak
mengalami penderitaan batin dan biasanya kita membutuhkan sesesorang yang dapat
diajak berkomunikasi dan menghayati kesepian yang kita alami.
3. Ketakutan
Adalah sebuah sesuatu
yang tidak dinginkan yang dapat menyebabkan seseorang mengalami siksaan batin.
Bila rasa takut itu dibesar-besarkan tidak pada
tempatnya, maka disebut sebagai phobia. Para ahli ilmu jiwa cenderung
berpendapat bahwa phobia adalah suatu gejala dari suatu problema psikologis
yang dalam, yang harus ditemukan, dihadapi, dan ditaklukan sebelum phobianya
akan hilang. Sebaliknya ahli-ahli yang merawat tingkah laku percaya bahwa suatu
phobia adalah problemnya dan tidak perlu menemukan sebab-sebabnya supaya
mendapatkan perawatan dan pengobatan. Kebanyakan ahli setuju bahwa tekanan dan
ketegangan disebabkan oleh karena si penderita hidup dalam keadaan ketakutan
terus menerus, membuat keadaan si penderita sepuluh kali lebih parah. Banyak
sebab yang menjadikan seseorang merasa ketakutan antara lain:
a. Claustrophobia dan Agoraphobia
Claustrophobia adalah ketakutan
terhadap ruangan tertutup. Sebaliknya, Agoraphobia yaitu ketakutan berada
ditempat terbuka.
b. Gamang
Ketakutan berada di tempat yang
tinggi.
c.
Kegelapan
Ketakutan terhadap tempat yang gelap.
d. Kesakitan
Merupakan ketakutan yang disebabkan
oleh rasa sakit yang akan dialami.
e. Kegagalan
Ketakutan
dari seseorang disebabkan karena merasa bahwa apa yang akan dijalankan
mengalami kegagalan.
2.6.
Kekalutan
Mental
Penderitaan batin dalam ilmu psikologi
dikenal sebagai kekalutan mental. Secara lebih sederhana kekalutan mental
adalah gangguan kejiwaan akibat ketidakmampuan seseorang menghadapi persoalan
yang harus diatasi sehingga yang bersangkutan bertingkah laku secara kurang
wajar.
Gejala
permulaan bagi seseorang yang mengalami kekalutan mental adalah :
1. Nampak
pada jasmani yang sering merasakan pusing, sesak nafas, demam, nyeri pada
lambung.
2. Nampak
pada kejiwaannya dengan rasa cemas, ketakutan, patah hati, apatis, cemburu,
mudah marah.
3. Selalu
iri hati dan curiga, ada kalanya dihinggapi khayalan, dikejar-kejar sehingga
dia menjadi sangat agresif, berusaha melakukan pengrusakan atau melakukan
detruksi diri dan bunuh diri.
4. Komunikasi
sosial putus dan ada yang disorientasi sosial.
5. Kepribadian
yang lemah atau kurang percaya diri sehingga menyebabkan yang bersangkutan
merasa rendah diri (orang-orang melankolis).
6. Terjadinya
konflik sosial – budaya akibat dari adanya norma yang berbeda antara dirinya
dengan lingkungan masyarakat.
Tahap-tahap
gangguan jiwa:
1.
Gangguan kejiwaan nampak dalam
gejala-gejala kehidupan si penderita baik jasmani maupun rohaninya.
2. Usaha
mempertahankan diri dengan cara
negatif, yaitu mundur atau lari, sehingga cara bertahan dirinya salah; pada orang yang
tidak menderita gangguan
kejiwaan bila menghadapi persoalan, justru lekas memecahkan problemnya,
sehingga tidak menekan perasaannya. Jadi bukan melarikan diri dari persoalan, tetapi melawan atau memecahkan
persoalan.
3.
Kekalutan merupakan titik patah
(mental breakdown) dan yang bersangkutan mengalami gangguan.
4. Krisis
ekonomi yang berkepanjangan telah menyebabkan meningkatnya jumlah penderita
penyakit jiwa, terutama gangguan kecemasan.
5. Dipicu
oleh faktor psychoeducational. Faktor ini terjadi karena adanya kesalahan dalam
proses pendidikan anak sejak kecil, mekanisme diri dalam memecahkan masalah.
Konflik-konflik di masa kecil yang tidak terselesaikan, perkembangan yang
terhambat serta tiap fase perkembangan yang tidak mampu dicapai secara optimal
dapat memicu gangguan jiwa yang lebih parah.
6. Faktor
sosial atau lingkungan juga dapat berperan bagi timbulnya gangguan jiwa,
misalnya budaya, kepadatan populasi hingga peperangan. Jika lingkungan sosial
baik, sehat tidak mendukung untuk mengalami gangguan jiwa maka seorang anak
tidak akan terkena gangguan jiwa. Demikian pula sebaliknya. Gangguan jiwa tidak
dapat menular, tetapi mempunyai kemungkinan dapat menurun dari orang tuanya.
Namun hal ini tidak berlaku secara absolut.
Sebab-sebab timbulnya kekalutan mental:
1.
Kepribadian
yang lemah akibat kondisi jasmani atau mental yang kurang sempurna.
2.
Terjadinya
konflik sosial-budaya akibat adanya norma yang berbeda antara yang bersangkutan
dan yang ada dalam masyarakat, sehingga ia tidak dapat menyesuaikan diri lagi.
3.
Cara pematangan
batin yang salah dengan memberikan reaksi berlebihan terhadap kehidupan sosial;
overacting sebagai overkompensasi dan tampak emosional.
Proses-proses
kekalutan mental:
·
Positif,
bila trauma (luka
jiwa) yang dialami seseorang, akan disikapi untuk mengambil hikmah dari
kesulitan yang dihadapinya, setelah mencari jalan keluar maksimal, tetapi belum
mendapatkannya tetapi dikembalikan kepada sang pencipta yaitu Allah SWT, dan
bertekad untuk tidak terulang kembali dilain waktu. Misalnya melakukan
sholat tahajud, ataupun melakukan kegiatan yang positif setelah kejatuhan
dalam hidupnya.
·
Negatif,
trauma yang dialami
diperlarutkan sehingga yang bersangkutan mengalami frustasi, yaitu tekanan batin
akibat tidak tercapainya apa yang diinginkan.
Bentuk frustasi antara lain:
1. Agresi
Berupa kemarahan yang
meluap-luap akibat emosi yang tak terkendali dan secara fisik berakibat mudah
terjadi hipertensi atau tindakan sadis yang dapat membahayakan orang
sekitarnya.
2. Regresi
Kembali pada
pola perilaku yang primitive atau ke kanak-kanakan.
3. Fiksasi
Adalah
peletakan pembatasan pada satu pola yang sama (tetap) misalnya dengan membisu.
4. Proyeksi
Merupakan usaha
melemparkan atau memproyeksikan kelemahan dan sikap-sikap sendiri yang negatif
kepada orang lain.
5. Identifikasi
Menyamakan diri dengan
seseorang yang sukses dalam imajinasinya.
6. Narsisme
Self love yang
berlebihan sehingga yang bersangkutan merasa dirinya lebih superior dari pada orang lain.
7. Autisme
Menutup diri secara
total dari dunia riil, tidak mau berkomunikasi dengan orang lain, ia puas
dengan fantasinya sendiri yang dapat menjurus ke sifat yang sinting.
Penderitaan
kekalutan mental banyak terdapat dalam lingkungan seperti:
1. Orang
yang terlalu mengejar materi.
2. Anak-anak
muda
3. Wanita
4. Kota-kota
besar
5. Orang
yang tidak beragama
2.7.
Penderitaan
dan Perjuangan
Setiap manusia pasti
mengalami penderitaan, baik secara berat ataupun ringan. Penderitaan adalah
bagian kehidupan manusia yang bersifat kodrati. Karena itu terserah kepada
manusia itu sendiri untuk berusaha mengurangi penderitaan itu semaksimal
mungkin, bahkan menghindari atau menghilangkannya sama sekali. Manusia adalah
makhluk berbudaya, dengan budayanya itu ia berusaha mengatasi penderitaan yang
mengancam atau dialaminya. Hal ini membuat manusia itu kreatif, baik bagi
penderita sendiri maupun bagi orang lain yang melihat atau mengamati penderitaan.
Penderitaan dikatakan
sebagai kodrat manusia, artinya sudah menjadi konsekwensi manusia hidup, bahwa
manusia hidup ditakdirkan bukan hanya untuk bahagia, melainkan juga menderita.
Karena itu hidup manusia tidak boleh pesimis, yang menganggap hidup sebagai
rangkaian penderitaan. Manusia harus optimis, ia harus berusaha mengatasi
kesulitan hidupnya. Allah berfirman dalam surat Arra’du ayat 11, bahwa Tuhan
tidak akan merubah nasib seseorang kecuali orang itu sendiri yang berusaha
merubahnya.
Pembebasan dari penderitaaan pada hakekatnya meneruskan
kelangsungan hidup. Caranya ialah berjuang menghadapi tantangan hidup dalam
alam lingkungan, masyarakat sekitar, dengan waspada, dan disertai doa kepada
Tuhan supaya terhindar dari bahaya dan malapetaka. Kita sebagai manusia hanya
bisa merencanakan namun Tuhanlah yang menentukan hasilnya.
2.8.
Penderitaan,
Media Massa dan Seniman
Berita mengenai
penderitaan manusia silih berganti mengisi lembaran koran, layar TV, pesawat
radio, dengan maksud agar semua orang yang menyaksikan ikut merasakan dari jauh
penderitaan manusia. Dengan demikian dapat menggugah hati manusia untuk
berbuat sesuatu.
Media massa adalah alat yang paling tepat untuk
mengkomunikasikan peristiwa-peristiwa penderitaan manusia secara cepat kepada masyarakat luas. Dengan
demikian masyarakat dapat segera menilai untuk menentukan sikap antara sesama
manusia, terutama bagi mereka yang simpati. Tetapi tidak kalah pentingnya
komunikasi yang dilakukan para seniman melalui karya seni, sehingga para
pembaca dapat mengambil hikmah dan pelajaran dari karya tersebut.
2.9.
Pengaruh
Penderitaan Terhadap Kelangsungan Hidup Manusia
Penderitaan mungkin akan memperoleh pengaruh bermacam-macam
dan sikap dalam dirinya. Sikap yang timbul dapat berupa sikap positif ataupun
sikap negative. Sikap negative misalnya penyesalan karena tidak bahagia, sikap
kecewa, putus asa, ingin bunuh diri. Sikap positif yaitu sikap optimis
mengatasi penderitaan hidup, bahwa hidup bukan rangkaian penderitaan, melainkan
perjuangan membebaskan diri dari penderitaan, dan penderitaan itu hanya bagian
dari kehidupan.
Orang yang merasa dirinya menderita akan mendapat tekanan
dari dalam jiwanya dan rasa malu. Tak jarang banyak manusia yang ingin
mengakhiri hidupnya karena tidak kuat menopang siksaan dalam hidupnya.
Ini terjadi di karenakan kekalutan mental. Kekalutan mental merupakan
suatu keadaan dimana jiwa seseorang mengalami kekacuan dan kebingungan dalam
dirinya sehingga ia merasa tidak berdaya.
2.10. Study Kasus
Contoh nyata dalam
kehidupan ketika seseorang mengalami siksaan dalam penderitaan seperti
banyaknya kasus bunuh diri. Salah satunya adalah artis cantik yang berasal dari
negri ginseng Korea Selatan Jang Ja Yeon, ia tewas bunuh diri dengan mengenaskan
di rumahnya pada tahun 2009. Artis cantik yang memiliki peran di drama Boys Before Flowers ini mengakhiri
hidupnya di karenakan mengalami depresi yang berkelanjutan.
Ia memilih gantung
diri di kamar mandi rumahnya di karenakan ia tidak tahan dengan kerasnya dunia
hiburan di negri tersebut. Sebelum ia meninggal Jang Ja Yeon menceritakan apa
yang ia alami dalam sepucuk surat, ia mengaku bahwa ia telah dieksploitasi dan
di lecehkan secara seksual selama berkarir di dunia hiburan.
Jang Ja Yeon di paksa
menjadi budak seks untuk orang-orang kaya demi memuluskan karirnya sebagai
artis. Ini adalah salah satu contoh dari
penderitaan dan siksaan secara fisik maupun batin yang menyebabkan korban
menjadi depresi berat dan lemahnya mental sehingga ia memutuskan untuk bunuh
diri.
BAB
III
PENUTUP
3.1.
Kesimpulan
Kehidupan manusia tidak akan datar pasti bergelombang.
Maksudnya
pasti ada saat-saat yang menyenangkan dan menyusahkan.
Penderitaan juga memiliki hubungan yang sangat erat dengan manusia. Rasa sakit,
siksaan menuntut manusia untuk bangkit menjadi lebih baik namun ada yang tidak
kuat sehingga terjadi kekalutan mental. Apabila manusia tidak mampu melewatinya sesuai dengan khaidah agama, manusia akan mendapat
penderitaan di akhirat berupa pemyiksaan di dalam neraka.
Dalam menghadapi penderitaan setiap orang pasti melakukan hal yang
berbeda untuk menahan atau menyikapinya.
Ada
yang menyikapinya dengan tindakan positif dan ada
pula yang negatif, misalkan yang positif ia akan lebih berusaha agar tidak
mendapatkan penderitaan yang ia sudah alami bahkan bisa menjadikannya sebagai
sebuah peluang dalam melakukan sebuah inovasi baru.
Sedangkan
yang negatif, ia akan trauma dan membuat kondisinya menjadi labil karena
terlalu berlebihan menyikapi penderitaannya
dan bahkan sampai ingin bunuh diri. Untuk itu kesehatan rohani
dan jasmani setiap orang harus dijaga agar terhindar dari kekalutan mental yang
bisa merusak psikis kita.
3.2.
Saran
Untuk
lebih mudah menerima segala kesedihan dan penderitaan hidup kita harus lebih
mendekatkan diri kepada Allah SWT,
berserah diri dan menerima segala sesuatu yang ada dengan syukur selalu. Karena
dalam masalah yang ada, kami yakin ada makna yang tersembunyi didalamnya,
sehingga kita harus membuatnya menjadi pengalaman hidup, karena pengalaman
adalah guru terbaik.
DAFTAR
PUSTAKA


0 komentar:
Posting Komentar